BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Pendidikan Islam sesungguhnya telah tumbuh dan berkembang
sejalan dengan adanya dakwah Islam yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW. Berkaitan dengan itu pula pendidikan Islam
memiliki corak dan karakteristik yang berbeda sejalan dengan upaya pembaharuan
yang dilakukan secara terus – meneruskan pasca generasi nabi. Pembaharuan-pembaharuan dalam islam
telah mengalami kemajuan yang sangat
pesat pada zaman dinasti Umayyah dan Abbasiyah.Namun sayang kemajuan tersebut tidak
dapat dipegang erat oleh umat islam saat ini, hingga pada akhinya kemajuan dari
dunia baratlah yang kini menjadi kiblat ilmu pengetahuan padahal mereka
bersumber dari khazanah ilmu pengetahuan dan metode berfikir islam yang
rasional pada massa klasik.
Dalam makalah singkat ini, kami akan
menyusuri bagaimana sistem pendidikan pada masa klasik dan pemikiran para tokoh islam dalam
mengembangkan pendidikan islam seperti al-Ghazali dan Ibnu Maskawaih.
Kami
mengharapkan dari makalah ini dapat meningkatkan kesadaran umat islam akan
pentingnya pendidkan dan akan lahir kontribusi pemikiran mengapresiasi sosok
pemikir pada zaman klasik yang karyanya membanjiri "ladang-ladang
pengetahuan" dan menyentuh seluruh aspek keilmuan ini.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang diatas kami merumuskan masalah yang akan dibahas pada makalah
ini adalah :
1. Apakah yang dimaksud dengan pendidikan islam klasik?
2. Apakah landasan
dasar dari pendiikan islam?
3. Bagaimana guru pada masa
pendidikan islam klasik?
4. Bagaimana kurikulum pendidikan islam
klasik?
5. Bagaimana peran lembaga pendidikan islam klasik dalam mencetak
ulama?
6. Bagaimana perkembangan pendidikan
islam klasik?
7. Bagaimana pemikiran pendidikan islam
menurut Al-Ghazali?
8. Bagaimana pemikiran pendidikan islam
menurut Ibn Maskawaih?
C.
Tujuan Penulisan
1.
Untuk mengetahui pengertian dari
pendidikan islam klasik
2.
Untuk mengetahui landasan dasar
pendidikan islam
3.
Untuk mengetahui guru pada masa
pendidikan islam klasik
4.
Untuk mengetahui kurikulum
pendidikan islam klasik
5.
Untuk mengetahui peran lembaga pendidikan islam klasik dalam mencetak
ulama
6.
Untuk mengetahui perkembangan
pendidikan islam klasik
7.
Untuk mengetahui pemikiran
pendidikan islam menurut Al-Ghazali
8.
Untuk mengetahui pendidikan
islam menurut Ibn Maskawaih
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pemikiran Pendidikan Islam Klasik
Pendidikan
dari segi bahasa berasal dari bahasa kata dasar didik.Pendidikan sebagai kata
benda berati proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang dalam usaha
mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan.[1][1]
Pendidikan
menurut istilah adalah bimbingan secara sadar oleh pendidik kepada terdidik
terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju kepribadian yang
lebih baik, yang pada hakikatnya mengarah pada pembentukan manusia yang ideal.[2][2]
Islam
adalah agama universal yang mengajarkan kepada umat manusia mengenai berbagai
aspek kehidupan baik kehidupan yang sifatnya duniawi maupun yang sifatnya
ukhrawi. Salah satu
ajaran Islam adalah mewajibkan kepada umatnya untuk melaksanakan pendidikan,
karena dengan pendidikan manusia dapat memperoleh bekal kehidupan yang baik dan
terarah.
Adapun yang dimaksud dengan
pendidikan Islam yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan berikut ini:
Menurut
Prof.Dr. Omar Mohammad At-Toumi Asy-Syaibany yang dikutip oleh Mahmud dalam
buku pemikiran pendidikan islam mendefinisikan pendidikan islam sebagai
perubahan yang diinginkan dan diusahakan, baik pada tingkah laku individu pada
kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya,atau dengan cara pengajaran sebagai suatu
aktivitas asasi dan sebagai profesi di antara profesi-profesi asasi dalam
masyarakat. [3][3]
Dr.
Muhammad Fadhil Al-Jamali memberikan pengertian pendidikan islam sebagai upaya
mengembangkan, mendorong, serta mengajak manusia untuk lebih maju dengan
berlandaskan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga
terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal,
perasaan, maupun perbuatan.
Pemikiran
berasal dari kata pikir yang berarti proses, cara, atau perbuatan memikir
yaaitu menggunakan akal budi untuk memuttuskan persoalan dengan mempertimbangkan
segala sesuatu secara bijaksana.
Untuk
memahami pemikiran pendidikan islam, kata islam merupakan sebagai kata kunci
yang khas pada pemikiran pendidikan.Jadi dapat didefinisikan bahwa pemikiran
pendidikan islam adalah pemikiran pendidikan yang secara khas memiliki ciri
islami.[4][4]
Klasik
artinya kuno yang mempunyai nilai atau
mutu yang diakui dan menjadi tolok ukur kesempurnaan yang abadi; tertinggi;
karya sastra yg bernilai tinggi serta langgeng dan sering dijadikan tolok ukur
atau karya susastra zaman kuno yang bernilai kekal; termasyhur karena
bersejarah.
Teori pendidikan klasik berlandaskan
pada filsafat klasik, memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya
memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori ini lebih menekankan peranan
isi pendidikan dari pada proses.[5][5]
Dari
pengertian-pengartiaan diatas penulis menyimpulkan bahwa pemikiran pendidikan
islam klasik adalah pemikiran pendidikan yang secara khas memiliki ciri islami
yang diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan
para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis yang
bertujuan untuk memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya islam.
B. Landasan Dasar
Pendidikan Islam
Landasan
dasar pendidikan islam terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist yaitu sebagai
berikut :
1.
QS. Al-Alaq 1-5
ù&tø%$#ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7/uur ãPtø.F{$#
ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷èt ÇÎÈ
Artinya :”Bacalah dengan
(menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah, Bacalah, dan tuhanmu lah yang paling pemurah, yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam.Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahui.[6][6]
2. QS. Al-Mujadalah ayat 11:
Æìsùöt ª!$# tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä öNä3ZÏB tûïÏ%©!$#ur (#qè?ré& zOù=Ïèø9$# ;M»y_uy 4
ª!$#ur $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ×Î7yz ÇÊÊÈ
Artinya :”Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman
di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan.”(QS.Al-Mujadalah:11)[7][7]
Dari Abi Darda
ia berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW beliau bersabda: keutamaan orang
alim dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan dibanding
bintang-bintang, sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi, dan
sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham,
sesungguhnya mereka mewariskan ilmu, maka barang siapa mengambil warisan itu
berarti ia mengambil bagian yang sempurna”. (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi).
Dari riwayat
Hudaifah ibnil Yaman RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang
tidak memperhatikan kepentingan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan
mereka, dan barang siapa pada waktu pagi dan petang tidak memberi nasihat bagi
Allah, kitabnya, imamnya, dan umumnya muslimin, maka ia juga tidak termasuk
golongan mereka”. (H.R.
At-tabrany)
C.
Guru Pada Masa Klasik
Dalam
pendidikan Islam, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus
mulia. Dikatakan berat karena guru mengemban kepercayaan (amanat) yang
diberikan oleh masyarakat guna melaksanakan fungsi pendidikan yang bertanggung
jawab memantau perkembangan kepribadian anak dari segala dimensinya dan
bertanggung jawab memberikan pelayanan yang baik, membangkitkan mereka dan
mengangkat derajat mereka ke arah yang lebih baik.[8][8]
Peran
guru dalam pada masa klasik memiliki peran yang besar karena keberadaanya
mempunyai andil yang besar dalam sebuah pemerintah, dan bahkan guru dapat
dijadikan corong untuk menyebarkan ajaran atau aliran yang dianut oleh
penguasa.
Pranata
sosial dan guru pada masa klasik diklasifikasikan ke dalam 3 golongan yaitu:
a.
Guru-guru yang
mengajar sekolah kanak-kanak (mu’allim al-kutab)
Guru
sekolah kanak-kanak mempunyai status sosial yang rendah. Hal ini disebabkan oleh kualitas keilmuan mereka
yang masih terbilang dangkal.
b.
Para guru yang
mengajar para putera mahkota (muaddib)
Pendidik
putera mahkota mempunyai status sosial yang tinggi, bahkan tidak sedikit para ulama yang mendapat
kesempatan untuk menjadi muaddib.
c.
Para guru yang
memberikan pelajaran di masjid-masjid dan sekolah-sekolah
Guru-guru
dari golongan ini telah beruntung mendapat kehormatan dan penghargaan yang tinggi di hadapan
masyarakat. Hal ini disebabkan penguasan
mereka terhadap ilmu pengetahuan yang mendalam dan berbobot.
D. Kurikulum
Pendidikan Islam Klasik 750-1350 M
Pada
masa klasik, pakar pendidikan Islam menggunakan kata al-maddah untuk
pengertian kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan
serangkaian mata pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat
tertentu.[9][9]
1.
Kurikulum
Pendidikan Islam Sebelum Berdirinya Madrasah
a.
Kurikulum Pendidikan
Rendah
Terdapat kesukaran ketika membatasi
mata pelajaran yang membentuk kurikulum untuk semua tingkat pendidikan yang
bermacam-macam. Pertama, karena tidak adanya kurikulum yang terbatas,
baik untuk tingkat rendah maupun tingkat penghabisan, kecuali Alquran yang
terdapat pada seluruh kurikulum. Kecuali, kesukaran menbedakan di antara
fase-fase pendidikan dan lamanya belajar karena tidak ada masa tertentu yang
mengikat murid-murid untuk belajar pada setiap lembaga pendidikan.
b.
Kurikulum Pendidikan
Tinggi
Menurut rahman, pendidikan jenis ini
disebut pendidikan orang dewasa karena diberikan kepada orang banyak yang
tujuan utamanya adalah untuk mengajarkan mereka mengenai Al-quran dan agama.
Kurikulum pendidikan tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu
agama dan jurusan ilmu pengetahuan.[10][10]
2.
Kurikulum
Setelah Berdirinya Madrasah
Berdirinya madrasah, pada satu sisi,
merupakan sumbangan islam bagi peradaban sesudahnya, tapi pada sisi lain
membawa dampak yang buruk bagi dunia pendidikan setelah hemegoni negara terlalu
kuat terhadap madrasah ini.
E. Metode
Pendidikan Islam Klasik
Pendidikan Islam adalah rangkaian
usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang berupa kemampuan –
kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sesuai dengan nilai-nilai Islam,
sehingga terjadilah perubahan pribadinya sebagai makhluk individual, sosial
serta dalam hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup. Untuk mencapai pada pengertian
pendidikan tersebut tentunya seorang pendidik memerlukan metode-metode yang
tepat dalam pelaksanaan pendidikan. Adapun metode yang digunakan dalam
pendidikan klasik antara lain :
- Metode ceramah.
- Dialog.
- Diskusi / tanya jawab.
- Metode perumpamaan.
- Metode kisah.
- Metode pembiasaan.
- Metode hafalan.[11][11]
F. Peran Lembaga
Pendidikan Islam Klasik Dalam Mencetak Ulama
Lembaga
pendidikan islam memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka transformasi
ilmu pengetahuan diantara nya lembaga yang mencetak ulama besar pada masa
klasik adalah:
1.
Al-Shuffah
Ketika Nabi Saw, pindah ke Madinah,
pekerjaan pertama kali yang beliau lakukan adalah membangun masjid. Pada salah
satu bagian masjid itu beliau pergunakan secara khusus untuk mengajar para
sahabat. Ruangan itu dikenal dengan sebutan “al-Shuffah”.[12][12]
Menurut Prof. Muhammad Mustafa Azami
yang dikutip oleh Abuddin Nata mengatakan bahwa pendidikan al-shuffah merupakan
perguruan tinggi yang pertama kali dalam islam, karena nabi Muhammad sebagai
staf pengajar sedangkan para mahasiswanya adalah para sahabat beliau.
Bidang-bidang studi yang diajarkan di
al-shuffah adalah Alquran, tajwid, dan semua ilmu ke Islaman di samping membaca
dan menulis. Dan tujuan utama al-shuffah adalah mensucikan hati dan menerangi
jiwa, sehingga mereka dapat meningkatkan diri dari tingkatan iman ke tingkatan
ihsan.
Di samping itu, perguruan tinggi
al-shuffah memiliki banyak alumni di antaranya:
a.
Abu Hurairah
Abu Hurairah r.a. adalah nama gelar
yang diberikan Rasulullah Saw. Nama aslinya di
zaman jahiliah adalah Abdus Syamsi. Kemudian setelah masuk Islam, ia
berganti nama Abdul . Ia dapat meriwayatkan sebanyak 5.374 hadis.
b.
Abdullah bin
Umar
Abdullah bin umar adalah putra Umar bin
Khattab dan teman Hafshah istri Nabi
Muhammad Saw.Ia telah meriwayatkan sebanyak 2.630 hadis. [13][13]
c.
Abdullah bin
Mas’ud
Abdullah bin Mas’ud bin Ghafil Al-Hadri
yang bergelar Abu Abdurrahman, termasuk
golongan sahabat besar yang dekat dengan Rasulullah Saw dan telah meriwayatkan hadist sebanyak 848 hadist.
d.
Abdullah bin
Amr bin Ash
Abdullah bin Amr bin Ash adalah seorang
ahli fiqih yang selalu menunaikan shalat,
bertobat dan beribadah. Ia menerima hadis dari Rasulullah sebanyak 7.000 hadis.
2.
Al-Azhar
Al-Azhar
sebagai bukti historis monumental dan produk peradaban Islam yang tetap eksis
sampai sekarang merupakan lembagaa tertua di dunia islam. Serta sebagai pelopor
kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.[14][14] Pada awalnya
al-Azhar bukan sebagai perguruan tinggi, tetapi al-Azhar merupakan sebuah
masjid yang oleh khalifah Fatimiah dijadikan sebagai pusat untuk menyebarkan
dakwah mereka. Pada masa itu pula dibangun gedung atau istana khalifah yang
berfungsi sebagai tempat untuk mengkoordinir dakwah dan membantu penyebarluasannya.
Untuk menangani hal ini, dipilih dari seorang kepala dari para da’i yang telah
memenuhi persyaratan, di antara persyaratannya ialah orang alim dari mazhab
ahlul bait. Adapun para alumni dari Universitas al-Azhar di antaranya.
a.
Syaikh Imam
Muhammad Al-Khuraisy
b.
Syaikh Imam
Ibrahim Al-Barmawi
c.
Syaikh Imam
Muhammad Al-Maraghi
3.
Madrasah
Nizhamiyah
Madrasah
Nizhamiyah merupakan satu institusi pendidikan Islam yang tersebar di seluruh
wilayah kekuasaan Saljuk. Dalam perjalanannya ternyata keberadaan Madrasah
Nizhamiyah tetap eksis dalam waktu yang lama. Hal ini dikarenakan keterlibatan
wajir Nizhamul Mulk sangat besar dengan memberikan beberapa fassilitas yang
memadai, seperti dana yang cukup besar, guru-guru yang profesional, dan
perpustakaan lengkap memuat lebih dari 6.000 jilid buku.[15][15]
Madrasah Nizhamiyah berkembang sangat cepat dengan
menyelenggarakan sistem pendidikan yang maju dan paling modern di zamannya
serta memiliki jaringan sekolah yang menyebar di seluruh wilayah Islami.
Diantara
alumni madrasah Nizhamiyah yang sangat terkenal dan mengajar di almamaternya
adalah:
a.
Al-Ghazali
Beliau
dikenal sebagai seorang ahli filosof, ahli fiqih, sufi, reformer dan juga
negarawan. Al-Ghazali menulis lebih dari 400 dan risalah-risalah
b.
Al-Juwaini
Ia
adalah seorang ahli fiqih, ushul fiqih, dan ilmu kalam. Beliau terkenal dengan
julukan Imam Haramain karena pernah tinggal di dua tanah suci (makkah dan
madinah).[16][16]
Atas permintaan Perdana Menteri Nizhamul
Mulk, Al-Juwaini kembali ke negerinya dan mengajar di Madrasah Nizhamiyah
sampai akhir hayatnya.
G. Perkembangan
Pendidikan Islam Klasik
Sejak
Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul sebagai tanda datangnya Islam sampai
sekarang telah berjalan sekitar 14 abad lamanya. Pendidikan pada
periode klasik antara tahun 650-1250 M.
1.
Masa Nabi Muhammad SAW (611-632 M./12 SH.-11 H.)
Pendidikan Islam pada masa Nabi
Muhammad merupakan prototype
yang terus menerus dikembangkan umat Islam untuk kepentingan pendidikan pada
zamannya. [17][17]
Nabi Muhammad sebagai seorang yang
diangkat sebagai pengajar atau pendidik (mu’allim). Disamping itu beliau diperintahkan
oleh Allah untuk menyebarkan pesan-pesan Allah yang terkandung dalam al-Qur’an.
Dapat dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah pengajar atau pendidik muslim
pertama.[18][18]
Pada masa ini pendidikan Islam diartikan pembudayaan ajaran
Islam yaitu memasukkan ajaran-ajaran Islam dan menjadikannya sebagai unsur
budaya bangsa Arab dan menyatu kedalamnya. Dengan pembudayaan ajaran Islam ke
dalam sistem dan lingkungan budaya bangsa arab tersebut, maka terbentuklah
sistem budaya Islam dalam lingkungan budaya bangsa Arab. Dalam proses pembudayaan
ajaan Islam ke dalam lingkungan budaya bangsa Arab berlangsung dengan beberapa
cara. Ada kalanya Islam mendatangkan sesuatu ajaran bersifat memperkaya dan
melengkapi unsur budaya yang telah ada dengan menambahkan yang baru. Ada
kalanya Islam mendatangkan ajaran yang sifatnya bertentang sama sekali dengan
unsur budaya yang telah ada sebelumnya yang sudah menjadi adat istiadat. Ada
kalanya Islam mendatangkan ajarannya bersifat meluruskan kembali nilai-nilai
yang sudah ada yang praktiknya sudah menyimpang dari ajaran aslinya.
2.
Pendidikan Islam Di Masa Khulafaur
Rasyidin (632-661
M./12-41 H.)
Setelah Rasulullah wafat,maka
pemerintah Islam dipegang secara bergantian oleh Abubakar, Umar bin
Khattab,Usman bin affan, dan Ali ibn Abi Thalib. Sistem pendidikan Islam pada
masa khulafa al-Rasyidin dilakukan secara mandiri, tidak dikelola oleh
pemerintah, kecuali pada masa khalifah Umar ibn Khattab yang turut campur dalam
menambahkan kurikulum di lembaga kuttab. Para sahabat yang memiliki
pengetahuan keagamaan membuka majlis pendidikan masing-masing, sehingga, pada
masa Abu Bakar misalnya, lembaga pendidikan kuttab.Lembaga pendidikan
ini menjadi sangat penting sehingga para ulama berpendapat bahwa mengajarkan
al-Quran merupakan fardlu kifayah. [19][19]
Peserta didik yang telah selesai
mengikuti pendidikan di kuttab mereka melanjutkan ke jenjang pendidikan
yang lebih “tinggi”, yakni di masjid. Di masjid ini, ada dua tingkat, yakni
tingkat menengah dan tingkat tinggi. Yang membedakan di antara pendidikan itu
adalah kualitas gurunya. Pada tingkat menengah, gurunya belum mencapai status
ulama besar, sedangkan pada tingkat tinggi, para pengajarnya adalah ulama yang
memiliki pengetahuan yang mendalam dan integritas kesalehan dan kealiman yang
diakui oleh masyarakat.
Pada lembaga pendidikan kuttab dan
masjid tingkat menengah, metode pengajaran dilakukan secara seorang demi
seorang–mungkin dalam tradisi pesantren, metode itu biasa disebut sorogan,
sedangkan pendidikan di masjid tingkat tinggi dilakukan dalam salah satu halaqah
(lingkaran) artinya proses pembelajaran
dilaksanankan dimana murid-murid melingkari gurunya.[20][20]
Pada masa ini juga sudah terdapat
pengajaran bahasa Arab. Dengan dikuasainya wilayah baru oleh Islam, menyebabkan
munculnya keinginan untuk belajar bahasa Arab sebagai pengantar
diwilayah-wilayah tersebut. Orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah-daerah
yang ditaklukkan harus belajar bahasa Arab jika mereka ingin belajar dan
mendalami pelajaran Islam.
Pada masa khalifah Usman kedudukan
peradaban Islam tidak jauh berbeda demikian juga pendidikan Islam tidak jauh
berbeda dengan masa sebelumnya. Para sahabat diperbolehkan dan diberi
kelonggaran meninggalkan Madinah untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang dimiliki.
Dengan tersebarnya sahabat-sahabat besar keberbagai daerah meringankan umat
Islam untuk belajar sehingga pusat pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin
tidak hanya di Madinah, tetapi juga menyebar di berbagai kota, seperti kota
Makkah dan Madinah (Hijaz), kota Bashrah dan Kufah (Irak), kota Damsyik dan
Palestina (Syam), dan kota Fistat (Mesir). Di pusat-pusat daerah inilah,
pendidikan Islam berkembang secara cepat.
3. Pendidikan Islam di Masa Dinasti
Umayyah (41-132
H. / 661-750 M.),
dan Dinasti Abasiyah (132-656 H./750-1258 M.)
Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin maka mulailah
kekuasaan Bani Umayyah. Pendidikan Islam pada masa Dinasti Umayyah ini hampir
sama dengan pendidikan pada masa Khulafa al-Rasyidin. Ada dinamika tersendiri
yang menjadi karakteristik pendidikan Islam masa ini, yakni dibukanya wacana
kalam (baca: disiplin teologi) yang berkembang ditengah-tengah masyarakat.
Sebagaimana dipahami dari konstruksi sejarah bani Umayyah–yang bersamaan dengan
kelahirannya hadir pula tentang polemik tentang orang yang berbuat dosa besar,
wacana kalam tidak dapat dihindari dari perbincangan kesehariannya, meskipun
wacana ini dilatarbelakangi oleh faktor-faktor politis. Perbincangan ini
kemudian telah melahirkan sejumlah kelompok yang memiliki paradigma
berfikir secara mandiri.
Pada
zaman dinasti Umayyah dan Abbasiyah, telah adanya penerjemahan ilmu-ilmu dari
bahasa lain ke dalam bahasa Arab, tetapi penerjemahan itu terbatas pada
ilmu-ilmu yang mempunyai kepentingan praktis, seperti ilmu kimia, kedokteran,
falak, ilmu tatalaksana, dan seni bangunan.[21][21]
Filsafat
Yunani mulai berpengaruh dikalangan ilmuwan Muslim pada masa pemerintahan Bani
Umayyah dan mencapai puncaknya pada masa Bani Abbasiyah ketika karya-karya
filosof Yunani diterjemahkan ke dalam bahasa Syriah oleh Hunayn dan anaknya
menerjemahkan dari bahasa Syaria ke bahasa Arab.
Pengaruh
dari gerakan penerjemahan ini terlihat dalam pengembangan ilmu pengetahuan umum
yang memberikan motivasi bagi ilmuwan muslim untuk lebih banyak berkarya dalam
kemajuan pendidikan Islam, sehingga muncul ilmuwan seperti Jabir ibn Hayyan,
Al-Kindi, Al-Razi, Al-Khawarizmi, Al-Farabi, Al-Fazari, Ibnu Umar Khayyam, Ibnu
Rusyd, dan sebagainya. [22][22]
Melalui orang-orang kreatif, seperti
itulah pengetahuan Islam telah melakukan investigasi dalam ilmu
kedokteran, teknologi,matematika, geografi dan bahkan sejarah.
Ada
lembaga yang dibuat pemerintah yaitu madrasah yang dalam pembuatannya itu
sendiri terdapat kepentingan-kepentingan tertentu, baik itu kepentingan mazhab
fiqih, teologi,kepentingan politik dan lain-lain.Pada masa Dinasti Bani
Abasiyah sudah muncul lembaga-lembaga pendidikan yangdi buat oleh pemerintah,
antara lain ; (1) lembaga pendidikan dasar (al-kuttab)[23][23],
(2) lembaga pendidikan masjid (al-masjid), (3) al-hawanit al-waraqin,
(4) tempat tinggal para sarjana (manazil al-‘ulama), (e) sanggar seni
dan sastra (al-shalunat al-adabiyah), (f) perpustakaan (dawr al-kutub
wa dawr al-‘ilm), dan (g) lembaga pendidikan sekolah (al-madrasah).
Semua ‘institusi’ itu memiliki
karakteristik tersendiri dan kajiannya masing-masing. Secara umum, seluruh
lembaga pendidikan itu dapat diklasifikasikan menjadi tiga tingkat. Pertama,
tingkat rendah yang terdiri dari kuttab. Kedua, tingkat
sekolah menengah yang mencakup masjid, dan sanggar seni, dan ilmu pengetahuan,
sebagai lanjutan pelajaran di kuttab. Ketiga, tingkat perguruan
tinggi yang meliputi masjid, madrasah, dan perpustakaan, seperti Bait
al-Hikmah di Baghdad dan Dar al-‘ulum di Kairo.
H.
Tokoh-tokoh Pemikiran Pendidikan
Islam Klasik
1.
Al-Ghazali
a.
Biografi Imam Al-Ghazali
Imam Al Ghazali nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i lahir
450 H atau 1058 M di Thus, propinsi Khurasan, Persia (Iran).[24][24] Dia adalah seorang
filosof dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat
abad Pertengahan.
Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia[25][25].
Beliau berasal dari keluarga yang miskin. Ayahnya mempunyai cita-cita yang tinggi yaitu ingin anaknya menjadi orang alim dan saleh. Imam Al-Ghazali adalah seorang ulama, ahli fikir, ahli filsafat Islam yang terkemuka yang banyak memberi sumbangan bagi perkembangan kemajuan manusia[25][25].
Imam Al-Ghazali meninggal dunia pada
14 Jumadil Akhir tahun 505 Hijriah atau
tahun 1111 Masehi di Thus. Jenazahnya dikebumikan di tempat
kelahirannya.[26][26]
b. Pemikiran al-Ghazali tentang
Pendidikan
Dalam pandangan Al-Ghazali yang dikutip oleh Mahmud dalam
bukunya pemikiran pendidikan islam mengatakan bahwa sentral dalam pendidikan
adalah hati sebab hati adalah esensi dari manusia.Menurutnya subtansi manusia
bukanlah terletak pada unsure-unsur yang ada pada fisiknya melainkan berada
pada hatinya sehingga pendidikan diarahkan pada pembentukan akhlak yang mulia.[27][27] Tugas guru tidah hanya mencerdaskan pikiran, melainkan
membimbing, mengarahkan, meningkatkan dan menyucikan hati untuk mendekatkan
diri kepada Allah. Jadi peranan guru disini tidak hanya mentransfer ilmu
melainkan mendidik.
c.
Tujuan Pendidikan Menurut Al Ghazali
Menurut Al Ghazali, puncak kesempurnaan manusia ialah
seimbangnya peran akal dan hati dalam membina ruh manusia. Jadi sasaran inti
dari pendidikan adalah kesempurnaan akhlak manusia, dengan membina ruhnya
Secara ringkas, tujuan pendidikan Islam menurut Al Ghazali
dapat diklasifikasikan kepada tiga, yaitu :
a.
Tujuan mempelajari ilmu adalah
membentuk insan kamil ( manusia sempurna) dengan tedensi mendekatkan diri
kepada Allah.[28][28]
b.
Tujuan pendidikan Islam adalah
mengantarkan peserta didik mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.[29][29]
c.
Tujuan utama pendidikan Islam adalah
pembentukan Akhlakul Karimah
d. Hakikat dan Persyaratan Seorang Guru
dalam Pandangan al-Ghazali
Pekerjaan yang paling mulia
sekaligus sebagai tugas yang paling agung. Seperti dikemukakannya :
"Makhluk yang paling mulia di muka bumi adalah manusia, dan bagian tubuh
yang paling berharga adalah hatinya. Adapun guru adalah orang yang berusaha
membimbing, meningkatkan, menyempurnakan serta menyucikan hati, hingga hati itu
menjadi dekat kepada Allah SWT. Al-Ghazali mengemukakan dalil yang didasarkan
pada ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadis diantaranya dalam QS. An-Nahl : 125.
Hakikat Guru didalam Al-Quran adalah
Allah.Tapi tidak berati bahwa manusia tidak mempunyai tugas di dunia ini
sebagai khalifah. Ditinjau dari misinya hakikaat guru adalah mengajak kejalan
Allah dengan mengajarkan ilmu pengetahuan dan menjelaskan kebenaran yang telah
diproleh kepada oranglain.[30][30]
Syarat pokok seorang guru, bagi Al Ghazali adalah berilmu,
tetapi tidak semua yang berilmu pantas menjadi guru. Tetapi ia harus memenuhi
kriteria-kriteria yang sangat ketat.
Menurut Al Ghazali, guru harus
memiliki sifat-sifat sbb: (1) rasa kasih sayang dan simpatik, (2) tulus ikhlas,
(3) jujur dan terpercaya, (4) Lemah lembut dalam memberikan nasihat. (4)
berlapang dada, (5) memperhatikan perbedaan individu [31][31](7) mengajar tuntas, tidak kikir terhadap ilmu (8) mempunyai
Idealisme.
e.
Kurikulum/Materi Pendidikan
Adapun mengenai materi pendidikan, Al Ghazali berpendapat
bahwa Al Qur’an beserta kandungannya adalah merupakan ilmu pengetahun.
Al Ghazali membagi isi kurikulum pendidikan Islam menurut
kuantitas yang mempelajarinya kepada dua macam, yaitu:
a.
Ilmu Fardlu ‘Ain, yaitu ilmu yang
harus diketahui oleh setiap muslim yang bersumber
dari kitabullah. ilmu yang fardhu ‘ain adalah ilmu yang diperlukan untuk mengamalkan kewajiban. [32][32]
b. Ilmu Fardlu Kifayah, yaitu ilmu yang
cukup dipelajari oleh sebagian muslim saja, seperti ilmu yang berkaitan dengan
masalah duniawi misalnya ilmu hitung, kedokteran, teknik, pertanian, industri,
dan sebagainya.
2. Pemikiran Ibn Maskawaih
a.
Biografi Ibn Maskawaih
Dalam Ensiklopedi Islam dikatakan,
Ibn Maskawaih adalah seorang ahli sejarah dan filsafat. Disamping itu, ia juga
seorang moralis, penyair serta ahli kimia.Nama lengkapnya adalah Abu Ali Ahmad
bin Muhammad bin Yakub bin Maskawaih. Ia dilahirkan pada 330 Hijrah (941 M)] di
Kota Ray (Teheran sekarang), dan wafat tahun 421 H/ 1030 M.[33][33]
Dilihat dari tahun lahir dan wafatnya, Ibnu Maskawaih hidup pada masa
pemerintahan Bani Abbas yang berada di bawah pengaruh Bani Buwaih. Puncak
prestasi atau zaman keemasan kekuasaan Bani Buwaih adalah pada masa ’Adhud Ad
Daulah yang berkuasa dari tahun 367 hingga 372 H. Pada masa inilah Ibn
Maskawaih memperoleh kepercayaan untuk menjadi bendaharawan dan pada masa ini
jugalah Ibn Maskawaih muncul sebagai seorang filosof, tabib, ilmuwan dan
pujangga.
Tetapi di samping itu, ada hal yang tidak menyenangkan hatinya, yaitu
kemerosotan moral yang melanda masyarakat. Oleh karena itulah agaknya ia lalu
tertarik untuk menitik beratkan perhatiannya pada bidang etika Islam. Setelah
kematian Mu’izz, beliau telah dilantik menjadi Ketua Perpustakaan. Ini telah
membuka peluang kepada Ibnu Maskawaih untuk menambah ilmu pengetahuan karena
beliau berpeluang untuk membaca berbagai buku yang ditulis oleh para ilmuan
Islam dan Yunani. Beliau kemudian dilantik menjadi Ketua Pemegang Amanah
Khazanah yang bertanggungjawab menjaga perpustakaan Malik Adhdud Daulah.
Sehubungan dengan itu, hasil ketekunan dan kerajinan beliau dalam mencari ilmu
pengetahuan akhirnya memberi hasil yang bernilai kepadanya. Ibnu Maskawaih
telah berhasil membina dan membuktikan ketokohannya sebagai ilmuan yang
mempunyai pengetahuan yang luas dalam berbagai bidang.
b. Tujuan Pendidikan
Corak pemikiran pendidikan Ibn
Maskawaih lebih bertedensi etis dan moral. Hal ini terlihat dari pendapatnya
mengenai tujuan pendidikan yaitu sbb:
1) Tercapainya akhlak mulia
2) Kebaikan, kebahagian, dan
kesempurnaan
Menurutnya tujuan pendidikan itu identik dengan tujuan hidup
manusia maka dengan pendidikan manusia dapat mencapai tujuannya yaitu kebaikan,
kebahagian, dan kesempurnaan.[34][34]
c.
Materi Pendidikan
Menurut Ibn Maskawaih yang dikutip
oleh Mahmud mengatakan bahwa materi pendidikan lebih menekankan pada materi
yang bermanfaat bagi terciptanya akhlak mulia, dan menjadikan manusia sesuai
dengan esensiasinya.
Mengenai urutan yang harus diajarkan
kepada perserta didik, yang pertama adalah mengenai kewajiban-kewajiban syariat
sehingga peserta didik terbiasa melaksanakannya, yang kedua materi yang
berhubungan dengan akhlak sehingga akhlak dan kualitas terpuji telah tertanam
dalam diri anak, yang ketiga yaitu meningkatkan setahap demi setahap pada
materi ilmu lainya sehingga peserta didik mencapai tingkat kesempurnaan.
d. Metode Pendidikan menurut Ibn
Maskawaih
1) Metode alami (tabi’iy)
Ibn Maskawaih mengatakan bahwa ide pokok dari metode alami
ini adalah dalam pelaksanaan kerja dan proses mendidik itu berdasarkan atas
pertumbuhan dan perkembangan manusia lahir batin, dan jasmaniah dan rohaniah.
2) Nasihat dan tuntunan
Ibn Maskawaih menyatakan supaya anak menaati syariat dan
berbuat baik diperlukan nasihat dan tuntunan.
3) Metode Hukuman
Ibn Maskawaih mengindikasikan banyak sekali yang dapat
dilalkukan dalam mendidik salah satunya jika peserta didik tidak melaksanakan
tata nilai yang telah diajarkan, mereka diberi sanksi berbagai cara sehingga
mereka kembali pada tatanan nilai yang ada.
4) Sanjungan dan pujian sebagai metode
pendidikan
Menurutnya apabila peserta didik melaksanakan syariat dan
berprilaku baik dia perlu dipuji.
5) Mendidik berdasarkan asas-asas
pendidikan
Menurutnya mendidik harus berdasarkan asas-asas pendidikan
yaitu asas kesiapan, keteladanan, kebiasaan, dan pembiasaan. [35][35]
BAB III
KESIMPULAN
Pemikiran
pendidikan islam klasik adalah pemikiran pendidikan yang secara khas memiliki
ciri islami yang diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan
dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan
sistematis yang bertujuan untuk memelihara, mengawetkan dan meneruskan waris.
Landasan dasar pendidikan islam terdapat dalam
Al-Qur’an dan hadist yaitu QS. Al-Alaq 1-5 dan QS. Al-Mujadalah ayat 11
Dalam
pendidikan Islam, guru mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat sekaligus
mulia. Dikatakan berat karena guru mengemban kepercayaan (amanat) yang
diberikan oleh masyarakat guna melaksanakan fungsi pendidikan yang bertanggung
jawab memantau perkembangan kepribadian anak dari segala dimensinya dan
bertanggung jawab memberikan pelayanan yang baik.
Pada
masa klasik, pakar pendidikan Islam
menggunakan kata al-maddah untuk pengertian kurikulum. Karena pada masa
itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata pelajaran yang harus
diberikan pada murid dalam tingkat tertentu.
Pendidikan
Islam adalah rangkaian usaha membimbing, mengarahkan potensi hidup manusia yang
berupa kemampuan – kemampuan dasar dan kemampuan belajar, Lembaga pendidikan
islam memiliki peranan yang sangat penting dalam rangka transformasi ilmu
pengetahuan
Sejak Nabi Muhammad diangkat menjadi
Rasul sebagai tanda datangnya Islam sampai sekarang telah berjalan sekitar 14
abad lamanya. Pendidikan pada periode klasik antara tahun 650-1250 M.
DAFTAR PUSTAKA
Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam,
Rajawali Pers,
Jakarta, 2012
Abuddin Nata, Sejarah
Pendidikan Islam, Rajawali Pers, Jakarta, 2012.
Achmad
Sarbanun, Filsafat Pendidikan Islam, Fakta Pers, Bandar Lampung, 2013.
Al-Quran dan Terjemahan Al-hikmah, Diponegoro,
Bandung, 2005.
Badri Yatim, Sejarah Pendidikan Islam, Rajawali
Pers, Jakarta, 2010.
Chairul Anwar, Reformasi
Pemikiran Epistemologis Pemikiran Al-Ghazali, Fakta Pers, Bandar Lampung, 2007.
Mahmud, Pemikiran Pendidikan
Islam, Pustaka Setia, Bandung, 2011.
makasih
. . .
syukron
syukron
Mengenai
Saya
Posting
Sebelumnya

Komentar
Posting Komentar