Makalah Pendidikan Islam Nusantara
MAKALAH
Pendidikan Islam Pada Era Kolonial Belanda Jepang
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Individu
Pada Mata Kuliah “Pendidikan
Islam Nusantara”
Dosen Dr. Wasehudin, M.SI
Disusun Oleh :
Muhamad Syahril : (162010011 )
Kholil
Bisri :
( )
Prodi : Pasca Sarjana (PAI)
Semester : 2
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SULTAN MAULANA HASANUDDIN (SMH)
BANTEN 2017
Absrak
Nama : Muhamad Syahril ( 162010011) dan Kholil bisri (
bisri judul makalah “Pendidikan
Islam pada era Kolonial Belanda Jepang)”
Pendidikan berasal
dari kata didik yang berarti mendidik manusi dengan usaha sadar yang dilakukan
untuk mengembangkan potensi manusia baik lahir maupun batin.
Pendidikan Islam adalah usaha yang dilakukan untuk
mengembangkan seluruh potensi manusia baik lahir maupub batin agar terbentuknya
pribadi muslim seutuhnya.
Pendidikan
Islam pada masa kolonial Belanda merupakan penyelengaraan pendidikan yang
dilakukan belanda dengan bermacam-macam sistem, diantranya; 1) Sistem
pendidikan peralihan Hindu Islam, 2) Sistem pendidikan surau, dan 3) sistem
pendidikan pesantren. Sedangkan pendidikan Islam pada mas Jepang memiliki
perkembangan, dinataranya; 1) Madrasyah 2) dan 3) Pendidikan Agama di sekolah.
Pendidikan yang diterapkan para penjajah diatur dengan
berbagai kebijakan yang menguntukan para penjajah. Untuk itu pada makalah ini
telah digambarkan bahwa terdapat tujuan
besar kolonial Belanda dan jepang yaitu ingin mengusai negara Indonesia yang
penuh dengan berbagi sumber daya alamnya. Terdapat perbedaan yang signifikan
pada pendidikan Islam yang dilakukan para penjajah yaitu pendidikan Islam yang
diterapkan Belanda sangat keras dan banyak merugikan bangsa Indonesia,
sedangkan Jepang seperti Belanda dengan memberikan kebijakan yang lunak dan
tidak terlalu mengekang bangsa Indonesia.
Adapun
kontribusi kolonial Belanda dan jepang banyak meninggalkan nilai-nilai sejarah
bagi bangsa Indonesia yang harus dipahami dan ditanamkan pada generasi kedepan
untuk mencintai bangsa Indonesia yang penuh dengan perjuangan didalam mencapai
kemerdekaan khususnya dalam bidang pendidikan.
PENDAHULUAN
Pendidikan di Indonesia sudah ada
sebelum negara Indonesia berdiri. Sebab itu sejarah pendidikan di Indonesia
juga cukup panjang. Pengembangan aktivitas pendidikan di Indonesia
pada
dasarnya sudah berlangsung sejak sebelum Indonsia merdeka hingga sekarang dan
hingga yang akan datang. Hal ini dapat terlihat pada fenomena pendidikan Islam
yang dilaksanakan di nusantara. Kemudian diteruskan dengan zaman pengaruh agama
Hindu dan Budha, zaman pengaruh agama Islam, pendidikan jaman penjajahan sampai
dengan pendidikan pada zaman kemerdekaan.
Kedatangan
bangsa kolonial Belanda memang telah membawa banyak kemajuan di Indonesia
terutama pada pembangunan. Akan tetapi tujuan Belanda adalah utuk meningkatkan hasil penjajahannya, bukan
untuk mensejahtrakan bangsa Indonesia. Begitu pula di bidang pendidikan. Mereka
memperkenalkan hal-hal yang dimiliki oleh mereka diantara sistem kemajuan
negara mereka kepada bangsa Indonesia. Dengan memberikan pekerjaan kepada
rakyat Indonnesia tujuannya dapat membantu kepentingan mereka dengan upah yang
murah dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari bangsa
Belanda. Pembaharuan pendidikan yang dilakukannya adalah westernisasi dan
Kristenisasi, yakni untuk kepentingan negaranya sekaligus mendokrinisasi masyarakat
Indonesia. Dua motif inilah yang mewarnai kebijaksanaan penjajahan barat di
Indonesia selama 3,5 abad.
Perjuangan
bangsa Indonesia tidak terlepas dari perjuangan umat Islam yang susah payah di
dalam memperjuangkan kemerdekaannya. Oleh karena itu sejarah bangsa Indonesia tidak akan lepas dari
umat Islam, baik dari perjuangan melawan kolonial penjajah pada era Belanda
maupun Jepang. Baik dalam bidang poloitik, ekonomi bahkan pendidikan Indosia
terus menerus dijajah oleh mereka. Melihat kenyataan dengan bangsa Indonesia
yang mayoritas Islam memperjuangkan negara Indonesia dalam kemerdekaanya, sehingga
atas izin Allah SWT mencapi keberhasilan dengan berjuang secara tulus ikhlas
mengabdikan diri untuk kepentingan agama bangsa dan negara.
Perlu
diketahui bahwa sejarah pendidikan Islam di Indonesia meliputi kejadian–kejadian
yang berkaitan erat dengan perkembangan pendidikan
Islam di Indonesia, bahkan pasca rezim kolonial belanda dan jepang masih
berbekas pada rakyat Indonesia hingga masa kini.
PEMBAHASAN
A. Masa Kolonial Belanda
Selama zaman penjajahan Barat itu berjalanlah
proses westernisasi Indonesia. Tetapi tujuannya adalah untuk meningkatkan hasil
penjajahannya,bukan untuk kemakmuran bangsa yang dijajah. Begitu pula di bidang
pendidikan. Mereka memperkenalkan sistem dan metode baru tetapi sekedar untuk
menghasilkan tenaga yang dapat membantu kepentingan mereka dengan upah yang
murah dibandingkan dengan jika mereka harus mendatangkan tenaga dari Barat. Di
samping itu sebagai bangsa penjajah pada umumnya mereka menganut pikiran ingin
menguasai Indonesia terutama wilayah Indonesia yang strategis dan memiliki
sumber daya alam yang melimpah ruah.
Orang Belanda datang ke Indonesia awalnya bukan untuk
menjajah melainkan untuk berdagang. Mereka di motivasi oleh hasrat untuk
mengeruk keuntungan yang sebesar-besarnya. Sehingga mereka berkeinginan untuk
menguasai tempat perdagangan tersebut. Lambat laun kantor dagang itu beralih di
bawah pemerintahan Belanda.
Kolonial Belanda memperlakukan umat
Islam sejajar dengan kaum pribumi. Sekolah untuk mereka terbatas hanya sekolah
desa. Padahal agama islam mayoritass penduduk pribumi. Sedangkan penduduk
beragama selain Islam khususnya Kristen (Protestan-Katolik) diperlalukan sama
dengan bangsa Eropa[1]
Metode kolonialisasi Belanda sangat sederhana. Mereka
mempertahankan raja-raja yang berkuasa pada waktu itu dan menjalankan
pemerintahan melalui raja-raja sebagai boneka permainan menuntut monopoli hak
berdagang dan eksploitasi sumber-sumber alam. Adat istiadat dan kebudayaan asli
dibiarkan tanpa perubahan aristokrasi tradisional digunakan oleh belanda untuk
memerintah negeri ini dengan cara terorganisir
B. Sikap
Penjajah Belanda Terhadap Pendidikan Islam Di Indonesia
Sebagaimana telah kita ketahui bahwa kedatangan penjajah
Belanda di bumi Nusantara untuk mengemban fungsi ganda,yaitu melakukan Penjajahan Dan Salibisasi. Tujuan
Belanda datang ke Indonesia, yaitu untuk mengusai Indonesia sebab Belanda Menganggap
Indonesia sebagai negara yang terletak strategis serta memiliki sumber daya
alam yang melimpah ruah terutama remapah-rempahnya ini merupakan menjadi
keuntungan yang besar bagi kemajemukan negara Belanda. Datangnya Belanda
diakhir abad ke16 dan awal ke 17 ke Indonesia berbeda-beda, bukan hanya hal
politik, tetapi juga proses kristenisasi.
Indonesia merupakan negeri berpenduduk mayoritas Muslim, agama
Islam secara terus-menerus membebaskan diri dari cengkraman pemerintahan kafir.
Maka sikap Islam pada waktu itu terus berjuang di dalam tujuan mencapai sesuatu
yang dinamakan kemerdekaan.
Dalam
rangka membendung pengaruh Islam pemerintah Belanda mendirikan lembaga
pendidikan bagi bangsa Indonesia, terutama untuk kalangan bangsawan. Mereka
harus ditarik kea arah westernisasi. Dalam pandangan Snaouk Hurgronje Indonesia
harus melangkah kearah modern sehingga secara perlahan Indonesia akan menjadi
negara modern. Para lulusan diharapkan dapat dijadikan partner dalam kehidupan
sosil budaya. Snauk Hurgronje memang mengharapkan kesatuan Indonesia dengan
Belanda dalam suatu ikatan Pax-Neerlandic. Oleh, Karena itu, dalam
lembaga pendidikan Belanda tersebut, bangsa Indonesia harus dituntun harus
biasa bersosialisasi dengan kebudayaan Belanda. Menurutnya pendidikan barat adalah
alat yang paling pasti untuk mengurangi dan akhirnya pengaruh Islam di
Indonesia.[2]
Pendidikan Islam pada waktu ada di Indonesaia sejak
agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 Masehi atau abad 1 hijriah.
Sesunggunya hasil pendidikannya sangat baik sekali. Bahkan sangat maju pesat
dengan tersebarnya Islam hamper diseluruh Indonesai. Dalam rangka melemahkan kekuatan Islam
pemerintah belanda melakukan pengekangan secara berkenjutan dengan maksud dan
tujuan mereka tercapai di negri ini.
Oleh karena itu,semboyan yang terkenal untuk
penjajah Belanda adalah semboyan ada tiga yaitu : (kemenangan atau kekuasaan), (emas
atau kekayaan bangsa indonesia),dan (upaya salibisasi terhadap umat islam di indonesia). Karena misi ganda
inilah secara otomatis segala tindakan atau kebijakan yang di ambil pihak
Belanda dalam masalah pendidikan Islam,cenderung merugikan umat Islam. Bahkan, pemerintah
penjajah Belanda secara terang-terangan membiayai gerakan kristenisasi. Pada tahun 1905, pemerintah Belanda
mengeluarkan suatu peraturan yang mengharuskan parah guru agama Islam memiliki
izin khusus untuk mengajar.
Banyak
sikap mereka yang sangat merugikan lajunya perkembangan pendidikan Islam di
Indonesia,misalnya:
- Setiap sekolah atau madrasah pesantren harus memiliki izin dari bupati atau penjabat pemerintah Belanda.
- Harus ada penjelasan dari sifat pendidikan yang sedang di jalankan secara terperinci.
- Parah guru harus membuat daftar murid dalam bentuk tertentu dan mengirimkannya secara periodik kepada daerah yang bersangkutan.[3]
Silih bergantinya bangsa Eropa memiliki kebijakan yang sama
terhadap Islam yaitu untuk menghambat perkembangan Islam di Indonesia. Mereka
selalu menutup atau mempersempit gerak Islam.
Umat Islam diikat dengan berbagai peraturan dalam menjalankan ibadahnya
dan bahkan tidak diberikan kesempatan yang luas dalam politik bahkan pendidikan
yang diberikanpun dengan berbagai aturan sehingga lebih menguntungkan bangsa
Belanda.
Dalam
konteks historis, ketika kerajaan-kerajaan Eropa di Barat mengalami kemajuan
serta mulai mengadakan penetrasi kedunia Islam di Timur pada abad 19 M,
sebagian dunia Islam berada di bawah kolonial Barat, maka pemikiran-pemirkiran Barat banyak masuk kedunia Islam dan berpengaruh
diberbagai bidang kehidupan. Pemikiran Barat yang ketika itu dipengaruhi oleh
sekularisme dihasilkan ke dalam
lembaga-lemabaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan di Indonesia yang
banyak diwarnai oleh sistem pendidikan Kolonial Belanda, yang lebih menekankan
pada pendidikan intelektual dan mengabaikan pendidikan agama. Setelah dunia
Islam memerdekakan diri dari kolonial tersebut, maka sistem pendidikan itu
tidak banyak mengalami perubahan, sehingga peserta didik yang dihasilkan tidak
sesuai dengan jiwa Islam.. Karena itu diperlukan pemikiran untuk membahas dan
mempelajari seluk beluk pendidikan yang sesuai dengan jiwa Islam. Dari paparan
di atas dapat diambil kesimpulan sementara bahwa corak pendidikan Islam yang
menginginkan oleh mereka adalah: (1) sintesa dari berbagai sistem pendidikan yang
pernah ada; (2) menumbangkan konsep dualisme dikotomi antara agama dan ilmu
umum atau melakukan integrasi antara keduanya dan, (3) sistem pendidikan yang
tidak sesuai dengan jiwa Islam.[4]
Corak yang diinginkan pemerintahan atau penjajahan pada masa
kolonial menggambarkan betapa terorganisirnya sistem pada masa itu untuk
melemahkan kemajuan bangsa Indonesia dalam bidang pendidikan. Sehingga banyak
pendidikan yang diterapkan bangsa kolonial harus berdokrinisasi nilai-nilai
kristenisasi sesuai dengan aturan kolonial belanda.
Jika bangsa Indonesia diberikan ilmu pendidikan itupun tidak
mungkin tanpa maksud bangsa kolonial melainkan sudah terplaning maksud mereka
memberikan pendidikan, diantaranya memperkerjakan mereka pada tempat-tempat
yang telah ditentukan tujuannya memakmurkan negara kolonial belanda.
Terlebih
lagi setelah kegagalan Perang Diponegoro (1825-1830). Kegagalan perang ini
berakibat bergesernya orientasi pada elite kerajaan jawa, dari orientasi
politik kebidang orientasi sosial budaya.[5] Atas dasar perjuangan dari organisasi Islam,melalui kongres
Al-Islam pada tahun 1926 di Bogor,peraturan tentang penyelenggaraan pendidikan
islam yang di buat oleh pihak Belanda pada tahun 1905 di hapuskan dan diganti
dengan peraturan baru yang di kenal dengan sebutan Peraturan Ordinasi
Guru.Setahun setelah perubahan itu terjadi,kembali pemerintah Belanda
menetapkan peraturan semula.Hal ini di karenakan adanya pemberontakan Komunis
di Minangkabau pada tahun 1927.[6]
Pendidikan di suatu Negara sangat di pengaruhi oleh berbagai
faktor,antara antara lain factor budaya, ilmu pengetahuan, corak masyarakat
agraris, industry maupun informasi, faktor politik dan pengaruh globalisasi. Dengan
demikian, politik pendidikan bukan hanya bagian dari politik kolonial,akan
tetapi merupakan inti politik kolonial.
Sikap
Belanda terhadap pendidikan setidaknya dapat dikategorikan kedalam empat hal yaitu:
- Pendidikan di selenggarakan dengan tujuan untuk kemajuan dan kemampuan yang berkualitas bagi orang-orang Belanda.
- Pendidikan di selenggarakan dengan maksud untuk menghasilkan tenaga-tenaga atau pekerja yang murah untuk membantu untuk kepentingan Belanda,
- Pendidikan diselenggarakan dengan tujuan menanamkan misi Kristen dan mengkristenkan orang-orang pribumi.
- Pendidikan diselenggarakan dangan maksud untuk memilihara dan mempertahankan perbedaan sosial.[7]
C. Pendidikan
Islam Pada Masa Kolonial Belanda
- Sistem Pendidikan Kolonial Belanda
Pemerintah kolonial Belanda menyadari
dalam menjajah Indonesa yang didominasi agama Islam tidaklah mudah dengan
banyaknya pondok pesantren yang menanamkan nilai agama pada diri anak bangsa.
Pesantren (golongan klasik) yang ada pada waktu itu merupakan pusat pendidikan
Islam mengambil sikap anti Belanda. Berbeda dengan sikap yang di tempu oleh
orang-orang Islam (Kaum terpelajar Islam) di luar pesantern (kaum modernisasi).
Dengan demikian,terdapat dua sikap yang di tempuh oleh bangsa Indonesia dalam
merespon kebijakan Belanda, khususnya yang berkenaan dengan pendidikan, yaitu
sikap kooperatif dan nonkooperatif. Sistem pendidikan kolonial Belanda berlandaskan
pada sistem yang berunsur diskriminasi dengan ketidak adilan pada bangsa
Indonesia, dengan tujuan jangka panjangnya dalam menjaga kemantapan politik
penjajahan, mereka menekankan agar tidak menerima pendidikan agama pada sistem
pembelajaranya.
S. Nasution
mengklasifikasikan ciri umum pendidikan colonial Belanda menjadi
enam ciri, yaitu 1) gradulsme, 2)
dualism, 3) pengawasan pusat yang ketat, 4) pendidikan
pegawai lebih diutamakan, 5) konkordasi,
6) tidak ada perencanaan yang sistematis, bagi
pendidikan pribumi. Sedangkan menurut Ki
Suratman, ada tiga ciri pokok, yakni; 1)
pendidikan bersifat heterogen, (banyak
ragamnya), 2) pendidikan bersifat diskriminatif, dan
3) pendidikan cendrung intelektualistik. Lebih jauh Ki Hajar Dewantara,
yang melihatnya
dari pentingnya pendidikan
rakyat pribumi sebagai suatu bangsa, menilai pendidikan
Paparan
dari para tokoh Pendidikan menggambarkan bagaimana Belanda mempunyai maksud yang tinggi untuk
menguasai Indonesai dengan menghancurkan sistem pendidikan serta menanamkan
politik yang mencerminkan mereka sebagai penguasa sepenuhnya di negara
Indonesia. Mereka menganggap bahwa jalur pendidikanlah yang efektif
dibandingkan dengan jalur-jalur yang lain.
b.
Sistem Pendidikan Islam
Pendidikan
Islam pada masa penjajahan Belanda ada tiga macam.
1. Sistem Pendidikan Peralihan Hindu
Sistem ini merupakan sistem pendidikan yang masih
menggabungkan antara sistem pendidikan Hindu dengan Islam. Pada garis besarnya,
dilaksanakan dengan menggunakan dua sistem, yakni : a). Sistem keraton,
b).Sistem pertapa
Sistem keraton dilakukan dengan cara guru mendatangi
murid-muridnya. Yang menjadi
murud-muridnya adalah anak-anak
bangsawan dan kalangan keraton. Sebaliknya sistem pertapa adalah para murid
mendatangi guru ke tempat pertapaannya. Adapun murd-muridnya tidak terbatas
pada golongan bangsawan dan golongan keraton, tetapi termasuk kalangan rakyat
jelata.
2. Sistem Pendidikan Surau
Surau
dalam perkembangannya mempunyai pengertian pada sudut padang yaitu keagamaan,
pendidikan dan sosiokultural. Dalam lembaga pendidikan surau tidak mengenal
birokrasi formal, sebagaimana dijumpai pada lembaga pendidikan modern.
Sistem
pendidikan di surau tidak mengenal jenjang, atau tingkatan kelas, murid
dibedakan sesuai dengan tingkat keilmuannya. Proses belajarnya tidak terpaku
sama muridnya akan tetapi diberikan kebebasan untuk memilih pada kelompok mana
yang dikehendaki. Dalam proses pembelajarnnya murid tidak memakai meja ataupun
papan tulis yang ada hanya, kitab kuning merupakan sumber utamanya dalam
belajar.
3. Sistem pendidikan
pesantren.
Secara
garis besarnya, pesantren adalah lembaga pendidikan yang tertua di Indonesia.
Pesantren sudah menjadi ,milik umat Islam setelah melalui proses Islamisasi
dalam sejarah perkembangannya. Sektor pendidikan keagamaan menjadi wewenang
penuh sendiri dan pengasuhnya. Dalam pengembangan selanjutnya pondok pesantren
sebagai Institusi pendidikan Islam ini disatukan dengan kegiatan dan
tugas-tugas dakwah. Peranan ganda ini kemudian menjadi potensi yang ikut
berpengaruh dalam kegiatan politik pendidikan.[9]
Hal ini
menunjukan bahwa sistem pendidikan pada masa Belanda sudah ada, yang kemudian
menjadi suatu hitoh atau semangat pendidikan Islam dalam mengembangkan
nilai-nilai bangsa Indonesia yang berkarakter. Pola yang diterapkan pondok
pesantren akan terus berkorelasi dengan aturan pondok pesantren pada masa kini
walaupun sudah banyak yang bernuansa sistem modern.
Keberadaan
sitem pendidikan Islam pada zaman Belanda tidak begitu saja berjalan dengan
baik, akan tetapi terdapat itikat buruk pada Belanda. Mereka menyusun strategi
untuk menghancurkan keberadaan pendidikan Islam di Indonesia.
Terhadap pendidikan Islam, semula
Belanda (tahun 1610 M), bersikap membiarkan saja menurut sistem kerajaan
Mataram. Namun, mereka lambat laun mengubah sistem pendidikan Islam secara
sedikit demi sedikit. Sejak perjanjian Giyanti (tahun 1755 M), Belanda mulai
berusaha melumpuhkan pengaruh Islam, dimulai di daerah yang sudah dikuasai di
Yogyakarta dan Surakarta. Ketika Van de Bosch menjadi Gubernur Jendral di
Jakarta tahun 1831, ia mengeluarkan kebijaksanaan bahwa sekolah gereja dianggap
diperlukan sebagai sekolah pemerintahan Belanda. Departemen yang mengurus
pendidikan dan keagamaan dijadikan satu. Di setiap daerah keresidenannya
didirikan satu sekolah agama Kristen. Van de Capplen tahun 1819, merencanakan
berdirinya sekolah dasar dari penduduk pribumi agar dapat membantu pemerintahan
Belanda. Dalam surat edarannya kepad para Bupati berisi;” Dianggap penting
untuk secepatnya mengadakan peraturan pemerintah yang menjamin meratanya
kemampuan membaca dan menulis bagi penduduk pribumi agar mereka dapat mentaati
undang-undang dan hukum negara. Dari surat edaran diketahui bahwa Belanda
menganggap pendidikan agama Islam yang diselenggarakan di pondok-pondok pesantren,
masjid, mushalah, dinggap tidak membantu pemerintah Belanda.[10]
Sterategi
Belanda dalam menjalankan agresinya di Indonesia tidak memundurkan semangat
para pejuang Islam di Nusantara terbukti dengan masih eksisnya pondok pesantren
hingga saat ini yang menganjarkan ajaran agama Islam dengan sistemnya yang
bersifat tradisional. Diantaranya di daerah pulau jawa masih banyak pondok
pesantren yang menggunakan kitab-kitab klasik didalam sumber pembelajarannya.
D.
Pendidikan Islam pada masa Jepang
Masuknya jepang ke Indonesia membawa perubahan yang lebih luas bagi rakyat
Indonesia, terutama dalam pendidikan, yang pada masa kolonilis Belanda bersifat
diskriminatif, kini terbuka bagi setiap orang, semua mendapat kesempatan yang
sama, jalur-jalur sekolah dan pendidikan menurut penggolongan
keturunan, bangsa, strata atau pun status sosial dihapuskan. Bahasa resmi
yang digunakan dalam menyampaikan pembelajaran adalah Bahasa Indonesia, dan
bukan bahasa Jepang, hal ini sejalan dengan tujuan kolonialis Jepang, adalah
untuk menciptakan tenaga militir yang kuat untuk keuntungan negara Jepang.
Pendidikan Islam pada masa Jepang lebih lunak dibandingkan pada masa
kolonial Belanda. Ruang gerak pendidikan Islam cukup baik dan tidak
terlalu banyak kekangan sehingga pertumbuhan pendidikan pada saat itu banyak
melahirkan para pelajar yang berkopeten. Hal ini memberikan kesempatan pendidikan
Islam untuk berkembang.
1.Madrasyah
Awal pendudukan Jepang, madrasah berkembang dengan
cepat terutama dari segi kuantitas. Mumpung ada angin segar yang diberikan oleh
Jepang, walaupun itu lebih bersifat politis belaka, namun kesempatan ini tidak
disia-siakan begitu saja dan umat Islam Indonesia memanfaatkannya dengan
sebaik-baiknya. Hal ini dilihat di Sumatra yang terkenal dengan Madrasyah
Awaliyah, yang diilhami oleh Majelis Islam Tinggi.
2. Pendidikan Agama di Sekolah
Agama di sekolah Sekolah Negeri diisi dengan
pelajaran budi pekerti. Hal ini memberikan kesempatan bagi para guru agama
Islam untuk mengisinya dengan ajaran agama, dan di dalam pendidikan agama
tersebut juga dimasukan ajaran tentang jihad melawan penjajah.
3. Perguruan tinggi Islam
Pemerintahan
Jepang mengizinkan berdirinya sekolah Tinggi Islam, di Jakarta dipimpin oleh
KH. Wahid Hasyim, Kahar Muzakki, dan Bung Hatta. Walaupun Jepang berusaha mendekati umat Islam dengan
memberikan kebebasan dan beraagama dan dalam mengembangkan pendidikan. Oleh
karena itu, meskipun dunia pendidikan secara umum terbengkalai, karena
murid-muridnya setiap hari hanya disuruh gerak badan, baris berbaris, bekerja
keras (ramusa), bernyanyi, dan sebagainya. Yang agak beruntung adalah
madrasyah-madrasyah yang berada di dalam lingkungan pondok pesantren yang bebas
dari pengawasan langsung pemerintah penduduk Jepang. Pendidikan dalam pondok pesantren
masih dapat berjalan secara wajar.[11]
Tujuan pendidikan yang
diterapkan di Indonesai juga untuk menyedian
tenaga cuma-cuma (romusha) dan prajurit-prajurit untuk membantu peperangan diberbagai
daerah untuk kepentingan bangsa Jepang. Oleh karena
itu, para pelajar diwajibkan mengikuti pendidikan yang di dalamnya terdapat
latihan fisik agar fisik menjadi kuat serta indroktrinasi yang sangat ketat dan
terkontrol.
E. Kebijakan Jepang Terhadap Agama Islam
Bangsa
Indonesia mengalami diskriminasi dari Belanda dengan berbagai kebijakan mereka
yang harur diikuti oleh bangsa Indonesia, setelah rezim Belanda selesai
kemudian berkelanjutan kepada rezim Jepang dengan menerapkan kebijakan seperti
Belanda, akan tetapi kebijakan yang diterapkan Belanda dengan bangsa Jepang.
Terlebih lagi pada awal pemerintahan
Jepang menampakkan diri seakan-akan membela Islam, yang merupakan siasat untuk
kepentingan Perang Dunia II. Untuk itu mendekati umat Islam, mereka menempuh
beberapa kebijakan, diantaranya dibentuknya ialah:
1. Kantor
Urusan Agama, yang ada pada zaman Belanda disebut Kantoor Voor
Islamistische Zaken, yang dipimpin
oleh orang-orang orientalis Belanda, diubah jepang menjadi kantor Sumubi, yang dipimpin oleh orang
Islam sendiri yaitu KH. Hasyim Asyari dari jombang, dan di daerah-daerah juga
dibentuk pemuka.
2. Para ulama Islam bekerja sama dengan
pemimpin-pemimpin nasionalis membentuk
barisan Pembela Tanah Air (PETA).
Tokoh-tokoh Islam para santri dan pemuda
Islam ikut dalam latihan kader militer
tersebut, anatara lain; Sudirman, Abd.
Khaliq Hasyim, Iskandar Sulaiman, dan lain-
lain.
Tentara pembela tanah air inilah yang
menjadi inti dari TNI sekarang.
3. Umat Islam diizinkan meneruskan organisasi
persatuan yang disebut Majlis Islam
A’la Indonesia (MIAI) yang bersifat kemasyarakatan.
Namun pada bulan Oktober
1943 MIAI dibubarkan dan diganti dengan Majlis Syura
Muslimin Indonesia.[12]
PENUTUP
Pengaruh kolonial Belanda dan Jepang sangat berbekas dihati sanubari rakyat Indonesia.
Dengan penyikasaan yang sangat luar biasa, banyak rakyat Indonesia yang
menjadi korban kebiadaban merekan. Akan
tetapi pada rezim penjajahan Jepang banyak memberikan peran yang penting dalam berkembangnya pendidikan di
Indonesia. Pada awalnya kebijakan-kebijakan yang yang dilakukan Jepang
sangat memihak bangsa Indonesia.
Mereka melakukan hal tersebut untuk mengambil hati bangsa Indonesia. Khususnya pada bangsa Indonesia yang mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam.
Jepang juga menghapuskan kebijakan-kebijakan pemerintah Belanda yang sebelumnya
diterapkan di indonesia dalam bidang pendidikan yang dirasa menguntungkan
bangsa Indonesia.
Akan tetapi kebijakan-kebijakan tersebut bersifat
sementara dan akhirnya Jepang menunjukkan sifat aslinya, mereka membuat
kebijakan tersebut demi keuntungannya sendiri terutama dalam romusha dan
dalam bidang kemiliteran.
Dengan keadaan Indonesia yang seperti itu penduduk
Indonesia pun tidak tinggal diam dan melakukan perlawan terhadap pemerintahan
Jepang. Perlawan-perlawanan yang di lakukan tidak lepas dari campur tangan umat islam.
Daftar Pustaka
Engku Iskandar. Sejarah
Pendidkan Islami. Remaja rosdakarya (Bandung: 2014)
Muhaimin, Wawasan
Pendidikan Islam,
Marja, (Bandung, 2014)
Mustafa dkk, Sejarah
Pendidikan Islam di Indonesia, CV Pustaka Setia, ( Bandung, 1998)
Nata Abudin, Kapita Selekta Pendidikan Islam; Angkasa (Bandung: Angkasa,2003)
Ramayulis, Sejarah
Pendidikan Islam, Kalam Mulia, (Jakarta;2012)
Soejo Joko, Sejarah Sosial Intelektual Islam di Indonesia, Rajawali Press, (Depok;2005)
Yatim Badri ,
Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, (Jakarta;2016)
[2]
Badri Yatim,
Sejarah Peradaban Islam, PT Raja Grafindo Persada, (Jakarta;2016) h 254
[3] Ibid h
94
[8]
Ramayulis, Sejarah
Pendidikan Islam, Kalam Mulia, (Jakarta;2012) h 250
[10]
Musyrifah
Sunanto, Sejarah Peradaban Islam Indonesia, PT Raja Grafindo
Persada, (Jakarta: 2014)h 118-119
[11]
Ramayulis, Sejarah
Pendidikan Islam, Kalam Mulia, (Jakarta;2012) h344-345
Komentar
Posting Komentar